
SAMARINDA, IKNPOST.ID | Kondisi panas yang mendera wilayah Indonesia, termasuk wilayah Kalimantan Timur membawa dampak. Musim kemarau menyebabkan debit air Sungai Mahakam di Kalimantan Timur mengalami penurunan drastis. Kondisi ini memicu dangkalnya alur sungai, terganggunya transportasi air yang membawa berbagai kebutuhan dan angkutan batubara, kemudian potensi hambatan distribusi air bersih bagi warga sekitar.
“Kejadian surutnya mahakam ini bukan yang pertama kali kita alami sebagai orang Kalimantan Timur tentunya sudah beberapa kali kita mengalami ini dan ini termasuk yang membahayakan juga karena permasalahan yang sama kerap berulang. Nah, ini sekarang kan lagi ada El Niño. Nah El Niño ini harus kita antisipasi. Betul. Karena pengurangan debit air yang ada di Sungai Mahakam tentunya akan berimbas kepada roda ekonomi kita.Karena mau tak mau, suka enggak suka, itu masih memanfaatkan penuh Sungai Mahakam sebagai jalur transportasi, logistik dan lain sebagainya,” ujar Dr.Saut Marisi Purba, S.H.MH ketua harian Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Kalimantan Timur periode 2025-2030 pada media ini di Tenggarong Senin (10/8/2026)
Menurutnya,sekarang surutnya Sungai Mahakam seperti pendangkalan memerlukan penanganan. Baik penanganan jangka panjang yaitu perbaikan ekosistem di hulu, Sungai Mahakam dan sebagainya, hutan-hutan kita pelihara baik lagi. Kemudian untuk penanganan segera dan cepat adalah mengadakan pengerukan dan lain sebagainya. Karena sudah membahayakan untuk alur transportasi yang berkecenderungan untuk menimbulkan insiden yang tidak kita inginkan.
” Kami dari Fordas Kalim mendukung penuh upaya pemerintah provinsi untuk mengadakan upaya-upaya perbaikan alur Sungai Mahakam ini, karena DAS Mahakam ini sebagai urat nadi pertumbuhan ekonomi Kaltim yang harus tetap kita pelihara, tetap berjalan dengan baik demi kelangsungan umat manusia,” jelasnya lagi
Kira-kira apa yang perlu dilakukan oleh Gubernur bersama dengan Pemerintah Kabupaten/Kota menyikapi persoalan ini?
” Saya pikir gubernur itu harus mengadakan koordinasi lintas sektoral terutama dalam hal untuk perbaikan lahan. Tapi itu kan untuk jangka panjang. Untuk langkah secepatnya ini beliau harus mengkoordinasikan dengan para bupati yang ada di sepanjang alur ini, untuk mengadakan perbaikan alur sesegera mungkin dengan pengerukan, tapi yang jelas agar supaya jalur ekonomi ini tidak terputus dan tidak menjadi beban baru di tengah ekonomi yang semakin sulit ini,” pungkas Purba. (AZ)
