Sat. Oct 10th, 2026

Aksi Premanisme Di Kampus Pasca Pemilihan Rektor, Aliansi Mahasiswa Unmul Geruduk Rektorat

Prof. Aswin: Anggota Senat tidak ada pengaruh dengan Ormas-Ormas itu

Aksi unjuk rasa aliansi mahasiswa Universitas Mulawarman di Gedung Rektorat Unmul. Kamis, (9/10/2026)

SAMARINDA, IKNPOST.ID | Ditutupnya akses Ke Kampus Oleh Sekelompok orang pada Kamis (1/10/2026) sebagai bentuk kekecewaan pasca pemilihan Rektor menjadi sorotan Mahasiswa Universitas Mulawarman (UNMUL) sendiri yang merasa segmen pendidikan harus steril dari tekanan politik luar maupun aksi premanisme

Hal ini mendorong kelompok mahasiswa Unmul yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Universitas Mulawarman menyikapi rentetan peristiwa yang terjadi di lingkungan Universitas Mulawarman. Mereka secara tegas menyatakan sikap menolak segala bentuk intervensi terhadap kebebasan dan marwah akademik kampus.

“Perlu kita pahami bersama dari kejadian kamis minggu lalu adalah yang pertama itu buntut daripada Pilrek Universitas Mulawarman yang kemudian tidak ada transparansi yang jelas kepada mahasiswa. Sehingga sebenarnya kami menolak bentuk intervensi eksternal yang kemudian tidak ada kaitannya dengan kampus hari ini. Baik dalam bentuk apapun, baik bentuk-bentuk dalam organisasi masyarakat maupun bentuk-bentuk lain yang kemudian kami rasa tidak pantas untuk masuk dalam ruang-ruang akademik terutama kampus.” ujar Zaid Iman At-Tamam, Humas Aliansi Mahasiswa Unmul kepada wartawan. Kamis, (8/10/2026)

Ia menjelaskan bahwa aksi penutupan akses kampus saat itu menyebabkan terganggunya kegiatan menimba ilmu para mahasiswa

“Ketika kita bicara polemik hari ini, ini adalah imbas dari kejadian kemarin hari Kamis, teman-teman beberapa ada yang kemudian terlambat kelas, terlambat praktikum, dan itu sangat merugikan teman-teman mahasiswa hari ini.” jelasnya.

Ia menekankan bahwasanya ruang akademik merupakan hak mahasiswa yang tidak seharusnya diintervensi oleh siapa pun, terlebih pihak eksternal dengan cara yang terkesan intimidatif.

“Karena hak kita di kampus adalah hak untuk belajar. Ketika hak belajar itu dihalang-halangi, maka ruang kebebasan berakademik, ruang kebebasan kita di kampus, itu sama dengan kita dihalang-halangi. Artinya ini adalah untuk intervensi eksternal, lagi-lagi saya tekankan, bahwasanya tidak boleh ada intervensi eksternal dan pembatasan ruang akademik dengan cara-cara premanisme, seperti itu.” Tegasnya

Dalam aksi ini Aliansi Mahasiswa Unmul membawa 3 poin tuntutan.

  1. Mendesak pihak rektorat untuk kemudian memberikan pernyataan dalam waktu 1×24 jam untuk peristiwa yang terjadi pada hari Kamis.
  2. Meminta transparansi terkait pemilihan rektor yang dirasa tidak transparan bagi mahasiswa.
  3. Meminta agar pihak rektorat memberikan pernyataan bahwa mereka juga menolak intervensi eksternal terhadap orang-orang kampus.

Aksi berlangsung dengan tertib, Aliansi ditemui langsung oleh Sekretaris Senat Universitas Mulawarman, Prof. Dr. Ir. H. M. Aswin, M.M., yang menanggapi beberapa pertanyaan mahasiswa.

“Aliansi Mahasiswa tadi menanyakan tentang transparansi dalam pemilihan. Sebagai anggota Senat kami menjelaskan aja apa-apa yang dilakukan oleh Senat, termasuk panitia menjadwalkan kami ikuti, kemudian ada penundaan dua kali, seperti itu. Itu yang kami jelaskan dengan mereka.” Ucap Prof. Dr. Ir. H. M. Aswin, M.M., Sekretaris Senat Unmul.

Prof. Aswin pasca menemui mahasiswa. Foto: Ist

Ia menjelaskan bahwa pihak senat tidak mengetahui sama sekali terkait kehadiran pihak eksternal yang melakukan blokade akses masuk kampus.

“Kalau Ormas itu kan kita tidak tahu. Ketika kami diminta untuk hadir ke gerbang sana, kami jelaskan dan mereka bubar.” Jelasnya.

Berita Terkait:

Ditanya lebih lanjut mengenai alasan terjadinya penundaan dalam pemilihan rektor, Prof Aswin menyebut bahwa hal tersebut terjadi karena adanya aduan masyarakat dan kementerian memang meminta penundaan beberapa kali, terlepas dari adanya keterlibatan ormas maupun partai politik

“Kalau penundaan-penundaan itu adalah pengaduan masyarakat. Nah ormas mana kita tidak tahu nih. Apakah ormas yang ada mendemo itu atau yang bukan mendemo itu.Karena beberapa kali dari kementerian itu meminta kepada kami ini ditunda karena ada pengaduan masyarakat. Itu masalahnya, jadi saya tidak tahu Ormas ini bagaimana pengaruhnya. Bahkan ada yang partai politik juga masuk katanya, tapi kita tidak sampai ke sana sebenarnya.” sambungnya.

Ia juga menegaskan bahwa pihak Senat tidak berafiliasi dengan Partai Politik maupun komponen masyarakat yang melakukan blokade.

“Nah kalau di Senat sendiri saya kira tidak sampai ke sana, kami tidak pernah dihubungi partai politik, tidak pernah. Saya tidak tahu juga, tapi tidak ada hubungannya (ormas, red) dengan anggota Senat, karena anggota Senat tidak ada pengaruh dengan Ormas-Ormas itu.” Tegasnya

Lebih lanjut, Professor Aswin menyoroti aksi yang tiba-tiba muncul setelah terungkapnya suara Kementerian ke salah satu calon

“Tetapi kalau saya lihat justru kenapa suara menteri itu tertumpu kepada satu orang itu justru itu pengaruh.
Nah setelah itu lalu ada pemblokiran segala macam, kan kita tidak tahu juga apa jalurnya.” ungkapnya.

Ia menyatakan pihak rektorat tidak abai terhadap hal ini. Ia juga memberikan opsi solusi terhadap polemik ini untuk memanggil pihak-pihak terkait agar tidak ada tuduhan.

“Kalau kami sama sekali tidak seperti itu ya kalau kami pribadi ya. Pak Rektor juga mungkin setelah itu kan sudah tidak ada lagi di tempat ini. Jadi, Kalau menuduh itu saya kira lebih baik orang yang bersangkutan dipanggil, ditanyai kan. Siapa yang mengkoordinasikan Anda seperti itu.” tandasnya. (K)

About The Author

Bagikan

By K

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *