
SAMARINDA, IKNPOST.ID | Maraknya mengenai keluhan orang tua siswa di Kaltim terkait terlambatnya dibagikan seragam sekolah dari program gratispol besutan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud di sosial media. Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur, Armin, menjelaskan alasan keterlambatan distribusi seragam sekolah program GratisPol yang dilaporkan belum diterima sejumlah siswa padahal tahun ajaran baru sudah berjalan. Ia mengatakan pihaknya sebenarnya ingin penyaluran lebih cepat. Namun proses teknis yang mengutamakan kualitas dan kepastian data membuat pelaksanaan mundur.
“Tadi Sesuai dengan arahan pak Gubernur memang harusnya lebih cepat. Ya, kita memang melihat secara teknis, karena kita ini harus memperhatikan dari kualitas. Kita betul‑betul hati‑hati melihat data yang tersedia. Sebenarnya kita maunya cepat, memang tadi banyak arahan Pak Gubernur tadi bisa agar lebih cepat, tapi pada dasarnya kita hati‑hati karena ini perlu data yang akurat,” ujar Armin, Plt Kadisdikbud Kaltim, kepada wartawan. Senin, (27/7/2026).
Menurutnya, penyaluran bergantung pada keakuratan data siswa yang dikirim oleh sekolah. Ia mencontohkan, ada sekolah swasta yang baru memasukkan data sehingga proses harus menunggu cut off dan verifikasi.
“Jangan sampai nanti data yang sudah dikasih sekolah ternyata tidak sesuai. Jadi kita nunggu data dari sekolah sebenarnya. Karena kalau sekolah tidak memberi data kan susah. Contoh hari ini kan swasta baru masuk, terakhir hari ini, Cutoffnya jam 4 ini, Nah kalau itu sudah selesai data sebetul-sebetulnya tersedia.” kata Armin.
Adapun Armin menjelaskan pihaknya sedang mengevaluasi formula percepatan tanpa mengorbankan mutu sekaligus menghindari keterlambatan serupa tahun depan. Salah satu opsi yang sempat dibahas adalah mecoba mengambil data dari jenjang sekoah sebelumnya (SMP).
“Kita coba apakah ada formula untuk tahun depan agar lebih cepat. Nah kita coba lihat, tapi tetap kita melihat kualitas gitu ya. Ya memang vendor kita kan tidak hanya satu, ada tiga. Cuman kan kita ya menunggu data dari sekolah, Nah itu makanya tadi kita coba lagi, apakah bisa data kita ambil dari SMP misalnya? Tapi kan sekali lagi, itu kan kita nggak tahu pertanggungjawabannya tidak jelas jika ada keluhan” jelasnya.
Armin juga menegaskan soal tanggung jawab ketika muncul keluhan. Ia menegaskan sumber data berasal dari sekolah, sehingga apabila ada masalah ukuran atau kualitas seragam, dinas akan merujuk pada data yang dikirim sekolah.
“Nah sekarang sekolah mengirim data, kan ada surat pertanggungjawabnya ke sekolah. Kalau nanti ada keluhan, datanya ada, misal bajunya kok gini, banyak yang nggak cocok. Kami kan dapat datanya dari sekolah loh, kita hati‑hati, dan cari kira kira yang cepat tapi aman” Tandasnya.
(K)
